PARADE SOSIALISASI I: BICARA JASTIP DAN BARANG PENUMPANG

PARADE SOSIALISASI I: BICARA JASTIP DAN BARANG PENUMPANG

Bandara Internasional Soekarno-Hatta merupakan gerbang utama pintu Indonesia, bagi penumpang yang datang dari luar negeri. Selain itu, pengiriman barang yang menggunakan kargo udara pun, masuk melalui bandara ini. Banyaknya jumlah penumpang yang datang serta arus lalu lintas barang yang padat, menjadi sasaran utama Bea Cukai Soekarno-Hatta dalam memberikan pelayanan, dan pengawasan. Namun yang paling mendasar, yaitu diperlukannya ketersediaan informasi mengenai aturan kepabeanan dan cukai, bagi penumpang maupun barang yang masuk.
.
Bea Cukai Soekarno-Hatta mengadakan sosialisasi aturan Kepabeanan dan Cukai dengan tema “Bicara Jastip dan Barang Penumpang”, yang mengulas tentang Ketentuan Ekspor dan Impor Barang yang Dibawa Penumpang dan Awak Sarana Pengangkut, pada hari Kamis 15 Oktober 2020.
.
Diselenggarakan secara daring menggunakan aplikasi Zoom, sosialisasi kali ini menyajikan dua subtopik dengan tema serupa, yaitu mengenai Ketentuan Umum Barang Bawaan Penumpang yang dibawakan oleh Mohammad Kamal Pasha selaku Peneliti Dokumen Tingkat Terampil (PDTT), dan Jasa Titipan dan Ketentuan Larangan Pembatasan yang dibawakan oleh Anton selaku Kepala Seksi Patroli dan Operasi I.
.
Acara diawali oleh sambutan dari Kepala Bea Cukai Soekarno-Hatta Finari Manan, yang menjelaskan bahwa sosialisasi kali ini dikemas dalam bentuk Parade Sosialisasi dengan tema “Kena Bea Cukai”. Topik Barang Bawaan Penumpang merupakan sosialisi pertama dari empat sosialisasi pada rangkaian parade.
.
Pada sesi pertama, Pasha menjelaskan, setiap penumpang boleh membawa barang apapun dari luar negeri masuk ke Indonesia dengan ketentuan barang tersebut tidak dilarang pemasukannya atau telah memenuhi persyaratan yang diatur oleh Kementerian atau Instansi terkait. Dan atas importasinya, diberikan nilai pembebasan sebesar USD 500 per penumpang, yang apabila melebihi nilai pembebasan yang dimaksud, diwajibkan membayar Bea Masuk dan Pajak Dalam Rangka Impor (PDRI) antara lain PPN, PPnBM, maupun PPh pasal 22.
.
Sesi berikutnya, Anton memaparkan, untuk penumpang yang membawa Barang Kena Cukai (BKC), diberi batasan jumlah antara lain 200 batang rokok sigaret, 25 batang cerutu, 100 gram hasil tembakau lainnya, atau 1 liter minuman mengandung etil alcohol (MMEA). Apabila terdapat kelebihan jumlah yang diberikan kebebasan, maka barang tersebut akan disita oleh petugas Bea Cukai yang memeriksa dan langsung dilakukan pemusnahan yang disaksikan penumpang yang bersangkutan.
.
Parade sosialisasi pekan I berjalan sangat lancar dan interaktif, banyak peserta yang antusias menanyakan mengenai contoh kasus teknis, dan mendapatkan solusi jawaban yang memuaskan dari para pemateri serta tim Bimbingan Konsultasi yang siaga menjawab pertanyaan yang diajukan.
.

Close Menu