PARADE SOSIALISASI III: BELANJA ONLINE, KOK KETAHAN?

PARADE SOSIALISASI III: BELANJA ONLINE, KOK KETAHAN?

Selama pandemi Covid-19 dan memasuki era adaptasi kebiasaan baru, tercatat aktivitas belanja daring mengalami kenaikan sebesar 400 persen. Angka yang tergolong fantastis ini, termasuk angka belanja daring yang diimpor dari luar negeri. Bea Cukai Soekarno-Hatta sebagai garda terdepan, tentunya menjalankan tugas baik dalam mengawasi maupun melayani arus lalu lintas barang tersebut.
.
Mengenalkan kepada masyarakat tentang peran Bea dan Cukai pada umumnya, Bea Cukai Soekarno-Hatta kembali menyelenggarakan sosialisasi aturan Kepabeanan dan Cukai dengan tema “Belanja Online, Kok Ketahan?”, yang membahas tentang mekanisme Impor Barang Kiriman, pada hari Selasa 27 Oktober 2020.
.
Diselenggarakan secara daring menggunakan aplikasi Zoom, sosialisasi kali ini membahas dua subtopik dengan tema serupa, yaitu mengenai mekanisme layanan impor Barang Kiriman yang dibawakan oleh Firdaus dan Farid Wahyudini selaku selaku Pejabat Fungsional Peneliti Dokumen Tingkat Terampil (PDTT), dan Pengawasan Larangan Pembatasan (LarTas) atas Barang Kiriman yang dibawakan oleh Ichlas Maradona yang merupakan perwakilan Bidang Penindakan dan Penyidikan (P2).
.
Acara diawali oleh sambutan dari Kepala Bea Cukai Soekarno-Hatta Finari Manan, yang menjelaskan bahwa sosialisasi kali ini dikemas dalam bentuk Parade Sosialisasi dengan tema “Kena Bea Cukai”. Topik Impor Barang Kiriman merupakan sosialisi ketiga dari empat sosialisasi pada rangkaian parade.
.
Pada sesi pertama, Firdaus menjelaskan bahwa terdapat perubahan pada ketentuan impor melalui mekanisme Barang Kiriman, yaitu ambang batas yang dulunya sebesar USD 75 kini menjadi USD 3 per kiriman, yang diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan nomor PMK 199/PMK.04/2019. Firdaus menambahkan, perubahan aturan ini tentunya telah melibatkan banyak pihak untuk membuat aturan yang inklusif serta menciptakan kondisi pasar yang adil.
.
Mengenai ketentuan tarif, Farid Wahyudini selanjutnya menjabarkan bahwa tarif perpajakan Adapun ketentuan tariff perpajakan yang semula dipungut Bea Masuk sebesar 7,5%, PPN 10%, PPh 10% dengan NPWP dan 20% tanpa NPWP, diubah menjadi pungutan Bea Masuk sebesar 7,5%, PPN 10%, PPh 0%. Selain itu, untuk melindungi industry dalam negeri, terhadap beberapa komoditi tertentu ditetapkan tariff khusus, antara lain sebesar 15%-20% untuk tas, 25%-30% untuk sepatu, dan 15%-25% untuk produk tekstil dengan PPN sebesar 10%, dan PPh sebesar 7,5%-10%.
.
Dari segi pengawasan, Ichlas Maradona mengungkapkan data yang diolah dari sistem CEISA Barang Kiriman, jumlah dokumen Consignment Note di tahun 2019 sebanyak 57,9 juta dokumen, meningkat sebesar 216% dari tahun 2018 sebanyak 19,5 juta dokumen. Bea Cukai Soekarno-Hatta pun menjadi salah satu gerbang utama arus masuknya impor barang kiriman tersebut, sehingga pengawasan juga harus tetap dikedepankan.
.
Sosialisasi kali ini menjadi jawaban atas pertanyaan yang bersifat teknis mengenai kasus impor barang kiriman, baik tata cara tracking dan status check, maupun tarif dan mekanisme penetapan serta pelayanannya. Selain itu banyak peserta yang menanyakan mengenai ketentuan perizinan terhadap barang lartas yang diatur oleh Kementerian/Lembaga terkait. Berbagai respon positif diberikan peserta atas materi dan jawaban yang diberikan, yang tentunya dapat dijadikan standar peningkatan sosialisasi berikutnya.

Close Menu